Tersesat di Beranda

 



Aku tidak punya rumah untuk pulang atau suatu tempat untuk dituju.

Aku tersesat di beranda

Yang hanya seluas kekhawatiranmu

Yang tidak pernah menyisakan ruang untuk menyuguhkan kesedihan;
pada halaman, pada tanah, atau pada kerikil bebatuan.

Tangis itu suara hujan, dan air mata adalah tampiasnya

Maka yang sendiri, bertelanjang kaki di atas teras basah.

Sedang seisi rumah adalah kekosongan.

Tidak ada kursi atau cangkir atau jendela berbicara kepadamu.




Bandung, 16 Juni 2021.



        

Komentar